Google Earth terancam digugat pemerintah Jepang

Google Earth, tidak menyangka bahwa peta Jepang kuno yang mereka tampilkan sejak tahun 2008 ternyata mendatangkan permasalahan. Google Earth bisa terancam digugat oleh pemerintah Jepang karena tanpa sengaja menampilkan gambar peta yang dianggap tabu.

 

Peta kuno itu yang ditampilkan itu menunjukkan kawasan hunian masyarakat Jepang yang berkasta rendah, Mengapa gambar peta kuno itu dibilang tabu? Peta itu ternyata mengungkapkan lokasi masyarakat Jepang yang berkasta rendah. Mereka disebut sebagai "burakumin," yang secara harafiah berarti "kumpulan orang kotor."

Google earthKelompok  burakumin termasuk bagian dari penduduk asli Jepang, namun di zaman feodal mereka digolongkan berada dalam tingkatan masyarakat paling bawah karena mereka bekerja di profesi yang berhubungan dengan kematian, seperti menyamak kulit, menjagal hewan, dan menggali lahan kubur.

Oleh karena itu, kelompok burakumin pun tinggal di wilayah yang terasing. Di sana, mereka mendirikan desa-desa buraku.

Dalam budaya masyarakat Jepang, penggolongan masyarakat berdasarkan kasta sudah lama tak berlaku. Selain itu, desa-desa buraku sudah tak berbekas karena sudah hilang oleh bangunan-bangunan kota moderen.

Masalahnya, bahwa masih banyak warga Jepang yang nenek moyang mereka adalah kelompok burakumin, yang diperkirakan kurang lebih sebanyak 3 juta dari total 127 juta rakyat Jepang.

Tentu tidak mengherankan bila mereka sangat sensitif bila latar belakang keluarga mereka terungkap, dengan mengacu dari lokasi dimana mereka tinggal. Pindah rumah pun juga percuma karena bisa saja majikan atau orang tua calon istri atau suami bisa menyewa detektif untuk melacak asal-usul keluarga yang bersangkutan.

Maka, dengan diterbitkannya peta kuno itu di Google Earth, orang Jepang bisa mengetahui bahwa wilayah yang mereka tempati selama turun-temurun dulunya adalah desa kaum burakumin dan bisa kemungkinan besar mereka berkasta rendah. Itulah mengapa penerbitan peta kuno itu tergolong tabu bagi sebagian rakyat Jepang.

Seorang pekerja kantoran di sebuah perusahaan terkenal di Jepang mengaku bahwa perusahaan tempat dia bekerja aktif melacak asal-usul para pelamar. Bila dia ketahuan keturunan burakumin - tak peduli seberapa pintar dan berbakatnya dia - si pelamar kemungkinan akan dinilai rendah.

Selain itu, para penghuni di wilayah yang dulunya kompleks burakumin rentan menjadi sasaran olok-olok, baik secara verbal maupun corat-coret grafiti, yang menghina mereka.

Lalu bagaimana khalayak tahu bahwa rumah yang bersangkutan dulunya adalah desa burakumin? Ternyata di atas gambar peta kuno itu, Google Earth telah menempatkan jalur-jalur putih yang diambil dari ilustrasi peta masa kini. Itulah sebabnya asal-usul wilayah itu bisa diketahui.

Salah satu distrik di Tokyo, misalnya. Menurut peta kuno, wilayah yang kini berdiri bangunan modern itu dicap dengan kata "eta" atau julukan lain untuk burakumin. Bila pengunjung laman Google Earth mengklik bagian gambar peta itu, maka terpampang juga gambar jalan dan gedung-gedung yang kini berdiri.

Tak heran bila publikasi gambar peta Jepang kuno di Google Earth mendapat kecaman dari kalangan politisi Jepang. "Bila ada insiden akibat peta-peta itu, dan Google cuma bilang 'bukan salah kami, 'itu karena si pengguna,' maka tak ada ungkapkan lain bagi kami selain mencap sistem Goggle sudah menciptakan prasangka buruk," kata Toru Matsuoka, anggota Majelis Tinggi parlemen Jepang.

Sedangkan Kementrian Kehakiman Jepang kini sedang "mengumpulkan informasi" terkait masalah itu, demikian menurut juru bicara mereka, Hideyuki Yamaguchi.

Menanggapi kritik keras dari Jepang, Google baru sebatas prihatin. "Kami sangat peduli dengan hak asasi manusia dan tak ada maksud untuk melanggarnya," demikian pernyataan resmi Google. (vivanews)

loading...
loading...